No Words

Super Junior

.Warning: Boys Love, typo, misstypo’s, OOC .

Rating: T

Pairing: Cho Kyuhyun x Lee Sungmin

Don’t Like , Don’t Read!

I’ve Warned You Guys.

.

il_fullxfull.195907539

.

No Words

Chapter 1

Walaupun akhirnya kau meninggalkanku, mengkhianatiku, dan tak menginginkanku lagi, aku tidak akan semudah itu melepaskanmu. Relung ini menjeratku, aku benar-benar berada di bawah mantramu. Walau semua ini tampak semu dan tak ada satu kata yang terungkap.

.

.

Berpikir dan mungkin sedikit merenung, memandangi jendela kelasnya yang buram karena karena kabut serta embun sejak pagi tadi. Orbs cokelat terang itu bergerak perlahan menyusuri celah-celah terang yang masih tersisa di kaca dingin jendela itu. Rambut hitamnya terjatuh indah di sisi wajahnya yang sempurna, kulitnya putih dengan pipi yang sedikit merona.

Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan berat. Aliran udara itu seperti pertanda perasaan pemiliknya yang benar-benar bosan untuk terus terkurung di dalam ruangan kelas yang sunyi ini. Hanya suara kertas yang dibalik dan detik jam yang berulang teratur, tanpa ada kegaduhan tanpa ada kebisingan. Sekolah elit ini memang berbeda, Seoul Institute of Media and Art memang terkenal dengan sistem pengajarannya yang disiplin dan teratur. Ah, tetapi dia tak terlalu memikirkannya. Toh, terkadang namanya anak muda ya bertingkah seperti anak muda.

Pemuda itu melirik arlojinya, lebih dari setengah jam lagi dirinya harus duduk tenang di kursi menyakitkan ini. Berkutat dengan rumus-rumus yang hari ini tak ingin ia cerna sama sekali. Lembaran dalam buku catatannya yang biasanya penuh hari ini tampak hanya coretan-coretan tak bermakna, sepertinya mood pemuda ini benar-benar buruk hari ini.

“Sungmin-ah, kau tampak diam sekali hari ini.”

Sungmin melirik pemuda lain yang duduk di sampingnya, bertanya kepadanya dengan suara yang sedikit berbisik. Sungmin menggelengkan kepalanya pelan. Pemuda dengan rambut hitam yang duduk di samping Sungmin mencondongkan badannya agar lebih dekat dengan pemuda berpipi tembam itu, “Hei, mau pesan pizza?”

Sungmin melirik dengan alis mata sedikit tertarik ke atas, “Traktir?” Pemuda dengan name tag ‘Kim Jong Woon’ itu tersenyum kecil, “Kau tenang saja, tapi kau yang pesan.”

Sungmin terkekeh pelan, mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Baru saja dia ingin menekan tombol layanan pizza, kelasnya yang tadinya sunyi sontak menjadi heboh tatkala ketua kelas mereka mulai mengumumkan bahwa sampai pelajaran terakhir nanti mereka hanya belajar mandiri. Sudah dia katakan, namanya anak muda ya seperti mereka. Sedisiplin apapun aturannya, keributan tak bisa dihindari begitu saja.

Sungmin beranjak dari kursinya dan berjalan ke luar kelas. Mencari tempat yang lebih tenang untuk menelpon. “Hallo? Ya, saya pesan 1 porsi besar. Alamatnya di—”

‘Apakah hari ini Cho Kyuhyun tidak masuk sekolah?’

Sungmin diam sejenak. Tak sengaja mendengar kumpulan gadis-gadis yang berbicara tak jauh darinya. Mereka bergerombol di sudut koridor, Sungmin menggelengkan kepalanya melihat gadis-gadis itu.

‘Benarkah? Ahh, aku jadi khawatir.’

Sungmin terpaku, mau tak mau mengira-ngira siapa yang sedang mereka bicarakan. Tapi tak perlu terlalu lama memikirkannya, Sungmin cukup yakin tau apa yang sedang mereka bicarakan. ‘Dia’ lagi… Sungmin yakin mereka membicarakan tentang hal itu lagi.

‘Kudengar dia sudah putus. Kenapa kau tidak coba berkencan dengannya? Aku dengar siapapun yang mengajaknya berkencan dia akan menerimanya.’

Bingo! Dugaannya tepat sekali. Pembicaraan yang paling hangat setiap awal minggu tentu saja tentang anak kelas satu itu. Sungmin tadinya tak begitu mengerti kenapa para gadis itu senang sekali membicarakan orang lain, bahkan mereka tak mengenal dengan baik siapa yang mereka bicarakan. Memilih untuk tak peduli, dia berjalan santai masuk kembali ke dalam kelasnya sebelum seseorang menepuk pundaknya dengan keras. Membuat tubuh pemuda itu sedikit terdorong ke depan.

“My Sunshine~!” Sungmin menoleh heran dengan panggilan menggelikan itu, dan sudah dapat dia tebak siapa yang berdiri di belakangnya. Gadis cantik dengan rambut hitam panjang tersenyum dengan polos kepadanya.

“Victoria,” sapa Sungmin dengan nada pelan. Mereka berdua masuk ke dalam kelas Sungmin, duduk bergabung dengan Yesung yang dari awal melambai-lambaikan tangannya kepada mereka berdua. “Apa yang membuatmu lama sekali?”

Sungmin bersender di kursinya sendiri, “Tak sengaja mendengar beberapa pembicaraan.” Yesung dan Victoria saling melihat, “Kau? Menguping pembicaraan orang? Tak mungkin,” sanggah Yesung dengan nada bercanda.

“Hanya tak sengaja mendengar, lagipula suara mereka terlalu kencang untuk tak didengar orang lain.” Sungmin memasukkan beberapa bukunya yang masih terbuka di atas meja lalu beberapa saat terpaku dengan layar ponselnya.

Melihat ekspresi Sungmin yang seperti itu Victoria nampaknya mengerti apa yang terjadi. “Biar aku tebak, kau putus lagi?” tanya Victoria tiba-tiba. “Lebih tepatnya dia dicampakkan lagi,” jawab Yesung. “Alasannya apa lagi?” Baru saja Sungmin ingin buka suara Yesung menyahutinya tanpa ragu, “Kau tidak seperti yang aku pikirkan, kau terlalu kejam untuk kami. Kau tidak bisa mengerti kami~” sambung Yesung tanpa peduli senggolan keras dari Victoria. Sungmin tampak tak peduli, tapi jelas dia terlihat kesal hari ini.

“Berhentilah mengejeknya, dia tak seburuk itu. Wajar saja banyak yang mengaguminya lihat wajahnya yang tampak selalu muda itu dia terlihat sangat tampan,” bela Victoria. Sungmin dengan eskpresi datarnya mendekatkan wajahnya kepada Victoria yang duduk di depannya, membuat Victoria harus mundur beberapa jarak, “H-hei… apa yang kau lakukan, bodoh.”

“Kenapa aku baru menyadari wajahmu begi menarik? Kalau begitu apa kau mau berkencan denganku?”

Plak!

“Au…”

Sukses, satu pukulan di kepala Sungmin cukup untuk membuat Sungmin meringis dan Yesung terkekeh pelan.

“Dia playboy,” bisik Yesung masih dengan tawa kecil. Victoria merengut kesal, “Kau tidak pernah berubah, bisakah kau bersikap lebih normal? Jangan mengatakan apapun seenaknya untuk menyenangkan wanita. Lagipula mereka ada benarnya, tidakkah kau tau ketika kau sedang memainkan gitarmu itu wajahmu sangat cool? Lalu ketika kau selesai memainkan sebuah lagu ‘bang!’ senyum pangeranmu itu keluar. Wanita mana yang tak jatuh hati?”

Sungmin mengangkat kedua bahunya tak acuh. “Aku hanya berusaha bersikap seperti apa yang mereka inginkan. Hanya saja mereka selalu berharap lebih, dan itu dapat dipastikan selalu terjadi. Mereka merepotkan.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak coba pacaran dengan Cho Kyuhyun itu?”

Continue reading

Advertisements

Curse [KyuMin FF/Chapter 4]

Title : Curse.

tumblr_mdgflqY99b1qieujy

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, and others.
Pair : KyuMin! >,<
Rating : T
Genre : Romance, drama, fantasy.
Disclaimer : Mereka diciptakan oleh Tuhan. Dan diri mereka adalah milik mereka sendiri. Sedangkan Super Junior adalah milik ELF, oppadeul kami bernaung di bawah agensi SM Ent.Warning : BL (MalexMale) , typo(s), misstypo(s) , dilarang BASH pairing ataupun karakter, jika anda tidak suka silahkan tinggalkan halaman ini dan jangan datang kembali. Jika saya menemukan komentar tidak pantas mengenai masalah pairing ataupun karakter yang saya gunakan, saya simpulkan anda TIDAK BISA MEMBACA—kritik dan saran yang sesuai diterima.

Chapter 4.

.

.

At Morning

“Tsk, tsk, coba lihat siapa ini…” Changmin berjalan memutari tubuh Sungmin. Decakan kagum khasnya tak luput membuatnya semakin terlihat kekanak-kanakan. Jujur saja Sungmin sampai risih dibuatnya. Ada apa dengannya? Sungmin hanya berpenampilan seperti biasa. Kasual yang sedikit, err manis? Changmin mengatakan hal itu barusan.

“Shim Changmin aku bukan model, berhentilah menatapku seperti itu,” protes Sungmin. Menjauhkan tubuhnya dari tatapan Changmin yang menurutnya sangat aneh. Ia bergegas duduk di kursi meja makannya. Mencomot sehelai roti panggang yang bagian bawahnya tampak sedikit gosong… oke itu bukan sedikit sebenarnya.

“Kau memanggangnya?”

“Yeah, begitulah,” kata Changmin. Mengambil tempat duduk di depan Sungmin. Lalu menuangkan segelas susu ke dalam gelas kaca yang tingginya 15 cm tanpa pegangan itu. “Kupanggang dengan penuh cinta, lho, Hyung.”

Sungmin mau tak mau tersenyum miring, tak tega mengutarakan pendapatnya pada roti di piringnya, “Ini roti gosong, Changminnie,” ujar Sungmin hati-hati. “Tapi kau tenang saja ini masih bisa dimakan, kok!” sambung Sungmin tiba-tiba. Tak tega dengan ekspresi wajah Changmin yang mengerut kecewa. Tak mau melukai perasaan Changmin yang sudah bersusah payah menyiapkannya sarapan.

Changmin mengulurkan tangannya, meraih pipi chubby Sungmin,”Kau jelek sekali panik begitu, haha,” ujar Changmin sembari mencubit-cubit pipi Sungmin pelan. Sungmin terkekeh saja membiarkan adik sepupunya itu memainkan jemarinya di pipi Sungmin.

“Hyung, menurutmu Kyuhyun itu bagaimana?” tanya Changmin tiba-tiba. Sungmin yang sedang mengoleskan selai strawberry di atas rotinya berhenti sejenak.

“Bagaimana apanya?”

“Kudengar kau diantar pulang ya kemarin lusa? Kenapa tidak cerita?”

Sungmin melipat rotinya dan mulai menyuap sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Agak tidak ingin terjebak dalam percakapan Changmin pagi ini.

“Kau tahu darimana?”

“Victoria noona yang mengatakannya.”

“Bagaimana dia tahu? Kyuhyun cerita padanya?”

Changmin menggeleng, “Kyuhyun? Dia bukan tipe seperti itu, dia juga sama diamnya denganmu.”

“Lalu?” Sungmin menatap Changmin heran. Kalau bukan orang itu, siapa lagi yang tahu?

“Aah, aku belum cerita ya kalau Vic noona itu sebenarnya—” Changmin tersentak, teringat akan perkataan Victoria yang selalu melarangnya mengumbar tentang siapa dirinya. Changmin memutuskan untuk diam. Mengalihkan pekerjaannya untuk mengambil lagi selembar roti panggang yang dioleskan selai secara asal-asalan. “Ah, lupakan saja.”

“Huh?” sahut Sungmin tidak mengerti. Jarang sekali Changmin memutus pembicaraan seperti itu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tidak cerita, Hyung?”

Sungmin mengendikkan bahunya, “Kenapa pula aku harus cerita padamu.”

“Heee, aku ‘kan hanya khawatir padamu. Dia tidak melakukan apapun padamu, ‘kan?”

“Memangnya dia mau melakukan apa? Berbicara saja bisa kuhitung, kok. Oh, iya… kau mau tidak menceritakan sesuatu padaku?”

“Cerita apa?”

“Tentang Kyuhyun…”

Hening sejenak. Sungmin menghilang dari ruang makan dan kembali membawa Yesung dalam dekapannya tanpa membiarkan Changmin menjawab pertanyaan Sungmin beberapa saat lalu.

“Oh iya, hari ini hari pertamamu masuk kuliah, ‘kan?”

Changmin menumpukan sebelah pipinya di punggung tangan kanannya. Lebih tertarik dengan Sungmin yang sedang merapihkan tasnya yang isinya agak berserakan di atas meja makan. “Iya. Kenapa?” sahut Sungmin tanpa menoleh.

“Jam berapa?”

“Sepuluh.”

Changmin terhenyak sebentar. Otaknya yang katanya pintar itu memproses sebentar perkataan Sungmin barusan. “Hyung…” panggilnya pelan.

“Apa?”

“Ini sudah jam setengah sembilan,” ujar Changmin. Melirik tak yakin kepada jam dinding yang menunjukkan angka yang disebut Changmin barusan.

“Lalu?” tanya Sungmin balik. Masih tak mengerti kenapa Changmin takut sekali dengan waktu. Memangnya apa yang salah? Toh dia tidak akan terlambat, masih banyak waktu kosong di sini. Lain lagi halnya jika tempat itu jauh dan tak terjangkau. CTAK! “Tunggu dulu.” Sungmin menutup tasnya tiba-tiba, tampaknya ia baru menyadari sesuatu.

Ditatapnya Changmin horror. Sedetik kemudian namja tinggi di depannya itu sudah lompat dari kursinya dan menyambar tasnya, berlari ke arah pintu keluar, asal-asalan mengambil sepatunya.

“Kita akan terlambat, Hyung!”

“Kita apa?! Hei! Kenapa kau tidak mengingatkanku sekolahmu itu sangatlah jauh!” Sungmin ikut menyambar tasnya, peduli amat dengan isinya yang masih berantakkan. Hampir jatuh tersandung karena menarik dari kursi secara tiba-tiba.

“Itu bukan hanya sekolahku! Sekolahmu juga!” sayup-sayup Sungmin dapat mendengar Changmin berteriak dari ruang depan.

Hah, pagi ini saja sudah dimulai dengan keributan bodoh seperti ini. Continue reading

Curse [KyuMin FF/Chapter 3]

“Kau sinis sekali padanya.”

Kyuhyun menggumam untuk menjawab perkataan Victoria barusan. Ia masih memandang gelapnya malam yang diselingi gemerlapnya lampu gedung-gedung di sepanjang jalan. Ia menyamankan posisi tubuhnya berulang kali. Merasa aneh dengan setiap kali tubuhnya bersandar di bangku mobilnya sendiri.

“Dan kau mengabaikanku, how great~”

Kyuhyun akhirnya menoleh ke arah Victoria yang sedang mengemudikan mobil milik Kyuhyun—dia terlalu malas menyetir hari ini.

“Kau ingin aku menjawabmu bagaimana, Noona?”

Victoria memutar bola matanya secara imajinatif. “Pemuda manis itu,” ujarnya lagi.

“Sungmin?”

“Hmm…”

Kyuhyun terkekeh, “Aku bersikap biasa padanya. Kau seperti tidak tahu siapa aku ini.”

“Kau memang dingin.”

Kyuhyun mengangguk, “Memang begitulah diriku.”

“Kurasa dia memang mirip walau tidak secara fisik.”

“Huh?”

Victoria menyeringai ke arah Kyuhyun, lalu menginjak pedal gas lebih cepat. “Pacarmu dulu. Kurasa sekarang kau tidak akan bisa berhenti memikirkannya.” Continue reading

Curse [KyuMin FF/Chapter 2]

“Aku akan sangat merindukanmu, Min.”

Sungmin tertawa pelan. Hari ini adalah hari yang paling ia nantikan. Walau bukan sesuatu yang sangat hebat dipandang orang. Hari ini ia untuk pertama kalinya akan meninggalkan rumah tercintanya, untuk belajar di negara yang ia dambakan sejak dulu—Korea Selatan. Aneh memang, karena dilihat dari segi manapun Jepang adalah negara yang unggul dalam pendidikannya, entahlah apa yang mendorong pemuda manis itu.

Yunho menatap khawatir pada Sungmin. Matanya menatap lekat tubuh mungil namja berambut pirang itu dari atas sampai bawah. Berulang kali seperti itu, memastikan untuk mengingat setiap detail yang ada pada tubuh Sungmin.

“Hoo, Yunho-yah, kenapa kau memandangiku seperti itu? Ekspresimu lucu sekali.” Sungmin melipat kedua tangannya di depan dada. Tampilan pemuda itu sangat tampan sekaligus manis pagi ini, bermodal kaus tanpa lengan berwarna putih dan celana jeans dilengkapi dengan topi, earphone dan kacamata hitam, gaya Sungmin tak jarang membuat beberapa pasang mata melirik ke arahnya.

“Aku hanya khawatir denganmu, Min hyung.”

“Aahh~ aku sangat suka ketika kau memanggilku dengan sebutan ‘hyung‘ membuatku merasa sudah berada di Korea saja,” canda Sungmin. Yunho kembali tersenyum simpul, “Kurasa dengan kemampuan bahasa Koreamu itu, kau dapat bertahan hidup di sana, tenang saja,” balas Yunho dengan candaan pula. Sungmin memukul lengan Yunho pelan, lalu keduanya tertawa bersama.

“Hanya saja, aku terlampau iri dengan kucing jelek itu,” gerutu Yunho. Menunjuk ke arah kandang Yesung yang diletakkan di samping koper Sungmin.

Sungmin melirik ke arah binatang peliharannya. Tak dapat menyembunyikan rona gelinya melihat kecemburuan di mata Yunho. “Mungkin jika kau mau ikut denganku ke Korea kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak lagi, bagaimana?” tawar Sungmin menggoda. Ia sangat tahu bahwa Yunho tidak akan mengikutinya.

“Lalu meninggalkan Jepang? Hanya untuk ke Korea? Hei~ aku masih cinta Jepang, Hyung.”

Sungmin memukul bahu Yunho lebih keras kali ini, “Ya! Korea itu tanah kelahiranmu, jangan menjadi kacang lupa pada kulitnya!”

“Auh, auh, kenapa kau memukulku, Min? Ini sakit sekali, tck…” Yunho mengusap bahunya, tak lupa memasang ekspresi sedih yang mungkin berhasil untuk meluluhkan Sungmin. Tetapi Sungmin malah mencubit pipi Yunho gemas, “Ayolaaah~ kita masih bisa berhubungan lewat apa saja. Aku tak akan melupakanmu.”

“Mana mungkin kau melupakanku, Min? Itu sangat tidak mungkin.” Yunho kali ini tak banyak menjawab, ia hanya tersenyum melihat kebahagiaan Sungmin yang memuncak. Ia masih memikirkannya, apakah ia rela melepas Sungmin untuk kali ini? Terlalu banyak hal yang tidak Sungmin ketahui.

“Hyung…”

“Ya?”

Tepat saat Yunho ingin mengatakan sesuatu. Suara operator wanita yang mengingatkan keberangkatan menghentikannya. Ekspresi Sungmin berubah cerah, berbeda dengan Yunho yang tampak masam.

“Sepertinya kau dipanggil.”

“Haha, sepertinya begitu. Kalau begitu aku pamit dulu, jaga dirimu baik-baik. Aku akan merindukanmu.”

Yunho terkekeh. Ia mengusap puncak kepala Sungmin yang memang lebih pendek darinya, “Seharusnya aku yang bicara begitu. Jaga dirimu baik-baik, akan kupastikan adikku menjagamu dengan baik.” Satu pelukkan dari Sungmin menjadi tanda perpisahan keduanya.

“Sampai jumpa!” Sungmin menarik kopernya dan berlari kecil. Yunho melambaikan tangannya dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Semoga kau baik-baik saja, Min.” Continue reading

Curse [KyuMin FF]

.

.

“Bukankah ini sedikit keterlaluan, Yang Mulia.”

Ruang yang di dominasi warna putih itu luas tak bersekat. Sinar menyilaukan berpantul di atas air kolam yang dihiasi bunga teratai. Menyebabkan bias cahaya berbagai warna. Mata itu berbinar cerah. Kontras dengan raut wajahnya yang tak berekspresi.

Sosok yang berucap tadi masih setia membungkukkan badannya. Setelan hitam kontras yang dikenakannya berkibar pelan tampak begitu indah. Rambutnya tampak acak-acakkan namun ia terkesan tampan.

“Kau menaruh simpati padanya?” Sosok yang berbicara duduk persis di hadapannya, di atas sebuah kursi taman kecil, masih setia menikmati bias cahaya yang berwarna-warni.

Sang penanya memalingkan wajahnya. Tak berani beradu kontak mata dengan sosok menakjubkan yang pembawaannya sangat tenang. Wajah dengan pahatan sempurna dengan aura yang terlampau rumit untuk dijelaskan.

“Apakah ada yang ingin kau katakan lagi?” tegurnya dengan suara lembut. Ia menunggu, namun sang penanya tak memberikan respon apapun, maka ia melanjutkan, “Karma itu berlaku pada setiap manusia.”

Ia dengan tenang kembali menunggu reaksi dari namja berbaju hitam yang setia membungkuk. Selewat beberapa saat bibirnya kembali melengkung, jemari indahnya bergerak pelan seperti ketukkan musik. Tak lama air kolam di depannya beriak, menarik perhatian dari si namja berbaju hitam.

“Bukankah dia terlihat menakjubkan?”

“Yang Mulia…” Continue reading